Kanuragan, Batara Karang, Candi Boko dan Sumber Ngawur; Sebuah Dialog

16 Aug 2012


Siang itu …
Aku hanya melihat ini sebagai batu yang sudah tua, lalu ditumpuk oleh orang-orang yang nggak punya kerjaan sama sekali,” ucapku pada Deni. Lain dengan Febri yang bilang, “ ini sangat artistik. Hebat. Dari batu apaan yach? ”

Kami hanya berjalan di seputar Candi, dan tak mengerti apa yang seharusnya kami lakukan di tempat itu. Sebagian dari kami ketawa-ketiwi tak jelas. Satu jam kemudian, rombongan mulai keluar dari dari Gapura Candi Boko (bangau). Bubar. Secara tak sadar, setapak demi setapak perjalanan meninggalkan Candi dengan sebatas lambaian tangan tanpa kesan.

Itu peristiwa sekitar tahun 2005-an. Saat kami, Keluarga Mahasiswa Jakarta, melepas penat pergi ke atas bukit dan “menemukan” komplek Candi Boko sebagai tempat yang “sama aja.” Aku masih menjadi Ketua Seksi Acara dalam Bakti Sosial di daerah itu. Sekarang tahun 2012. Ada beberapa bisikan entah suara hati atau syaithan– tapi bagiku lebih tepat itu dari Jin, yang memintaku segera ke sana. Aku selalu menyebut bisikan aneh itu dengan “sumber ngawur” yang digunakan sebagai “metodologi pendukung” dari metode yang pertama, yakni “akal waras dan jiwa yang tenang.”

Jika mendengarkan percakapan diantara “para sumber ngawur,” rasanya memang benar, soal ada silsilah yang hilang (missing generation) dariku dengan leluhur. Dalam catatanku, leluhur tertua ada pada tahun 1880 dari daerah Koja. Namun, penarikan yang “agak ngawur” dari “sumber ngawur,”di Koja ada kaitan erat dengan Prasasti Tugu di Semper. Tugu itu sudah ada pada zaman Kertanegara (Raja Singosari terakhir), diletakkan tepat pada simpang lima. Karena mengganggu jalan, tugu itu digeser ke Jl. Kramat Jaya Raya, dekat Jakarta Islamic Center. Sekarang juga masih di sana.

Sumber sejarah museum Jakarta mengatakan lain soal Tugu Semper. Huruf Pallawa yang ada di sana, dibuat jauh lebih tua, yakni Abad Ke-4 pada masa Tarumanegara. Artinya “sumber ngawur” hidup pada jaman abad ke-12, sehingga belum mengerti sejarah Tugu Semper pada abad sebelumya.

Lalu dialog yang aku simpulkan dengan “sumber ngawur,” sebut saja kami dari orang keturunan penduduk seputar Koja-Tipar. Lalu sejarah Koja erat dengan Singosari pada masa lalu sekitar abad ke-12 M. Berbagai literatur klasik, Candi Boko dibangun pada abad ke-8 M. Artinya yang tinggal di seputar Candi lebih tua dari orang daerah kami. Ada kemungkinan orang-orang tersebut berinteraksi luas, hingga keturunannya masih hidup di daerah Semper di tahun 2012, yaitu aku ini. Nenek buyut bukan hanya berakhir pada catatan 1880 saja, jauh lebih dari itu. Makanya wajar kalo sering di beri “warisan” dari keturunan yang nggak jelas.

Inilah mata rantai yang menjadi pokok masalah. Mengapa ada kalangan Jin – entah dia Muslim atau bukan—yang pada ramadhan 4 tahun lalu (2008) ujug-ujug ngasih ilmu batara karang, lalu dengan tegas aku tolak. Alasannya karena aku emang nggak mau diberikan sesuatu yang tidak aku ketahui. Aku mulai membaca banyak, apa kegunaan batara karang setelah kejadian itu lewat dunia maya. Nah, Ramadhan tahun ini ada juga yang ngasih “parsel kanuragan.” Katanya “kurir-nya” aku sangat pantas memegang ilmu itu. Makanya aku jadi tambah bingung “parsel aneh” model begitu, apakah diterima atau ditolak aja kayak yang dahulu. Alasan “si kurir,” aku ini masih ada kaitan erat dengan sejarah Candi Boko. Kalo emang ini benar, berarti nenek buyut aku adalah Rara Jonggrang yang sekarang jadi Candi di Jawa Tengah itu. Ngaco bin ngawur banget. Belajar silat aja nggak jago, tapi ada “kurir” yang “nyasar beri kanuragan” dengan pengantar “we get you, boy!!!.”

Kalo diinget-inget, awal tahun 2006 aku sempat ke Daerah Prambanan. Bertemu salah seorang Brahma (pendeta Hindu), dan bertanya pada mereka soal “penyakit” yang kuderita. Dia bahkan hanya menggeleng-geleng kepada sambil seraya ingin mencium kakiku (jadi ge-er banget). Waktu itu, belum mengerti bahasa Jawa. Isyarat pendeta itu yang kutangkap, “you are the choice. Please accept our best respect.” Aneh. Mau konsultasi malah disembah-sembah.

Masih ditahun yang sama, beberapa bulan kemudian aku pulang ke rumah. Dan mencari beberapa orang yang biasa “main ilmu gitu-gituan.” Katakanlah orang pinter. Dia bilang, “ anak ini kemasukan Jin Hindu.” Mendengar kata-kata tadi, secara tidak sadar tangan kananku meraba-raba ke belakang—seperti orang mau narik keris, lalu ingin melawan itu orang. Sebenarnya aku bukan marah mendengar kata-kata “hindu.” Aku kesal, karena hafalanku hampir 3 Juz Qur’an masih di-klaim seakan-akan kafir. Banyak hafalan aku atau dia? Barangkali si orang pinter malah hafidz 30 Juz.. hehehe..

Mungkin aku agak gila dan semakin ngawur. Tapi nggak mungkin juga orang gila, bisa duduk di kantor, puluhan anak buahnya diatur sambil ngetik tulisan ini. Sedikit mikir soal ramadhan taun ini, yang hampir setiap hari malah membaca artikel seputar Maja Pahit, Gajah Mada (yang akhir nasibnya nggak jelas), sejarah Surabaya-Malang-Mojokerto, semua candi-candi di Indonesia. Malam hari, kami ngobrol dengan “sumber ngawur” soal tema-tema tadi, dan apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu. Just sharing only.

I hope you will ignore this writer. Couse you also say me a “layer or dreamer.” Any indigo children said that “impeachment” since born.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Bacaan pembanding :
http://www.jakarta.go.id/jakv1/item/halaman/0/0/469/1/4/2/16/3/4/4/16/5/55/6/56/nid/469
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/44590
http://majalahtopik.co.id/readnews.php?id=395


TAGS


-

Author

Follow Me