Gaun Putih Pengantin

17 Jul 2012

Sebuah kamar kecil terpisah, dipayungi tenda pada bagian luar. Aku, bersama puluhan orang berpayung dibawah tenda sambil menatap tegak, ke depan. Di sebelahku, ada encang-sebutan Pak De, dan Bu de. Mereka berdua terus bilang, seraya meyakinkan, bahwa pernikahan ini tegolong aneh. Aku sendiri belum mengerti maksud mereka. Hanya pendetatapi saya yakin kalau dia sebenarnya Pastur, yang berbaju hitam-hitam. Dia menjadi penghulu pada pernikahan ini. Pengantin pria, tampak terdiam dengan tuxedo hitam menanti calon pengantin wanita. Tanpa ekpresi. Tidak gembira, tidak pula tersedu.

Memang, rasanya ada yang terasa janggal, di tengah kepungan para tamu. Meski pada waktu itu, terus bergolak di hati, tak pernah kudatangi pernikahan selaindengan tata caraIslam. Setelah lama berkubang bingung, akhirnya kembalilah aku pada encang. Mereka berkali-kali bilang, bahwa tidak seharusnya kita berada di situ. Sambil terus menengok ke arah kiri, calon pengantin belum juga hadir, memasuki ruang pelaminan. Singgasana mereka.

Terkejutlah aku, manakala encang bilang, kalau ternyata yang nikah adalah satu dua pasang (satu pria dengan dua wanita sekaligus). Masuklah calon mempelai wanita, dengan mengenakan jilbab putih. Berjalan seiringan dengan wajah standar. Tidak sedih, tidak juga menangis. Salah seorang calon pengantin perempuan memasuki ruangan untuk menemui pendeta agar prosesi segera dimulai. Disitulah setelah kuamati baik-baik, wajah pengantin berjilbab jelas terpampang. Sama sekali pengantin yang diluar, kulupa wajahnya. Tapi yang sedang ijab-qobul dihadapan pendeta.. Wajah sandaran hatiku. Dia bersanding dengan calon mempelai pria.. Tapi semua wajah tanpa experesi. Kosong tanpa mimik wajah.

Subhanallah Mataku meradang. Tak percaya kalau.. ini terjadi.

ooOoo

___

Tak lama aku terbangun. Mimpi soal gaun putih, menuntun ke arah jam dinding. Tepat pukul 4:00 pagi. Ya Allah

Setelah sholat.. jemariku mengetik sms pada sandaran hati. Kukatakan ratusan permohonan maaf, sekaligus ucapan terima kasih. Segala kepiluan soal mimpi itu, tentu tak bisa terwakili dengan kata sekedar “maaf”. Karena semua orang bilang, mimpi pengantin adalah mimpi yang heboh untuk orang yang dimimpikan.

Sajadah telah kulipat. Saatnya bermanja dengan sabun, persiapan berangkat ke kantor. Masih tertancap, apa arti mimpi menjadi pengantin? Gerah. Tak biasanya pagi ini, Metro Mini, begitu macet. Dan aku masih terus menatap ke arah handpone, seraya bertanya, mengapa sms padanya belum juga terkirim. Pasti hape, belum ditengok. Ada klausul yang membuatnya takut menyentuh hape hari ini? Atau hape itu harus meleleh dahulu di kantornya ?

Angan terlempar pada mimpi tadi malam. Soal pemakai gaun putih, soal para pendeta aneh itu.. Ya Allah berilah satu kesempatan untuk melihat wajahnya. Jika tidak akan pernah, pertemukan kami sebagai pasangan suami-istri yang saling meridhoi di surgamu nanti. Rupanya sulit juga hati ini menerima.

Jam 7.05 delivery sms report menyalak. Setelah itu, kami saling berbalas. Setengah jam kemudian, dia nampak kecewa berat. Barangkali tadi malam, tidak puas tidurnya dibelai kehangatan. Dan kami haturkan saling mohon maaf.. Meski jemari masih lincah mengetik pesan, namun debaran terus berkata, kalau orang yang selama ini kudamba, sebentar lagi akan kembali pada pemilik-Nya. Dan sejak saat itu, barulah hati ini kembali pada sadarnya, Cintailah siapa pun semau-mu, kelak kamu akan berpisah dengannya. Tapi jika kamu mencintai Allah Swt, kamu tidak akan pernah berpisah.

Setidaknya, kini aku mulai mengerti, mengapa Allah Swt, tidak mesti mengabulkan doa kita. Dan kita harus tetap mengemis pada-Nya.


Wallahu a’lam bi ash-shawab.


TAGS


-

Author

Follow Me