Belajar Ikhlas

11 Nov 2011

Puasa tahun lalu 2010, saat itu masih di Jogja. Ada yang menarik, saat pulang ke rumah Haji Yasir di Wirosaban, dari Sapen. Sore, saat menjelang buka puasa, kami berduaberboncenganmelihat hilir-mudik, orang yang hendak membeli tajil. Padatnya jalan, sempat bergumam dalam hati, Jogja jadi kota motor. Sampai daerah Taman Siswa, jalan masih terasa padat. Yang menarik, ternyata ada sebuah sedan hitam yang berjalan sangat lambat. Ternyata ia terus semakin melambat. Hampir separuh berhenti, mobil itu memanggil tukang becak yang sedang parkir. Kala tukang becak separuh mendekat, dari dalam mobil ada yang memberikan amplop. Saya sendiri melihat, tukang becak tadi langsung membuka amplop yang berisi uang 50 ribu rupiah. Mas tukang becak tersenyum lebar, sebagai tanda terimakasih.

Sedan hitam itu terus meluncur. Kami terus berada di belakang. Arah mobil rupanya menuju Wirosaban juga. Mobil kembali memperlambat gerak. Tukang becak yang lagi bengong dekat halte Transjogja, kembali dipanggil. Dibalik kaca gelap separuh terbuka, seorang anak lelakisaya kira berumur 7 tahunmemberi amplop lagi pada tukang becak. Ekspresi tukang becak kembali gembira.

Laju motor kami terpaksa harus berbelok ke arah gang kecil, di samping pom bensin Wirosaban. Motor Haji Yasir terus melaju. Dia sama sekali tidak tahu, kalau mataku meleleh banjir. Hati ini terus meletup gundah sambil berharap, Ya Allah.. jadikan aku kaya harta, agar aku bisa sedekah seperti orang-orang tadi yang kulihat di dalam sedan. Agar aku bisa mengajari anak-anakku untuk bisa berbagi harta pada orang lain yang membutuhkan, secara ikhlas. Tanpa minta imbalan popularitas, tanpa berharap imbalan untuk dihormati. Seperti dalam ayat 10 Surat al-Ins?n.

Sampai juga akhirnya di kost Haji Yasir. Sebelum melepas helm, cepat-cepat kusembunyikan air mata. Entah dia ingat atau tidak. Yang jelas, dia sempat berceloteh, kalau MD, banyak sedekah, bagi-bagi uang. Tapi kalo NU kebanyakan bawa mobil, pasang speaker keras-keras, lalu minta-minta uang di jalanan. Hanya lengkung senyum seperti bulan sabit yang membalas komentar Haji Yasir. Masih teringat, pagi tadi kami berdua sempat membahas perbedaan perilaku sebagian masyarakat NU dan Muhammadiyah. Kami berharap tetap menjadi salah satunya, namun berprilaku sebagai pembagi sedekah yang ikhlas seperti yang di dalam sedan.


TAGS


-

Author

Follow Me