Tentang Sandaran Hati

29 Apr 2011

Pertemuan Itu

Cerpen by: Maryam Jameela

Riza. Hampir sepuluh menit masih terpaku di meja rias. Ia bahkan kini mulai berdiri berlenggek-lenggok bak model di catwalk. Tubuhnya lebih berat 3 Kg dari masa gadis dulu. Padahal gadis kecilnya baru usia 3 tahun. Suara anak itu sambil bermain di lantai, diabaikan sejenak. Bahkan, Mbak Ning, tetangga yang jadi sahabat dibiarkan sejak tadi duduk di atas kasur.

“Baru pulang dari warnet. Mau kemana lagi?,” tanya Mbak Ning.

Bak model majalah, Riza masih asik meragakan busana lama yang masih tampak baru. Bahkan jilbab coklat mulai membungkus rambut hitamnya. Ia sama sekali tidak menjawab.

“Ke tempat hajatan? Mau ikut main jatilan? Mau kemana sih?,” tanya Mbak Ning lagi.

Dirasa kurang pas, Riza melepas jilbab. Sambil senyum-senyum, ia menarik jilbab warna biru gelap dari lipatan dalam lemari. Wajahnya semakin bersinar dengan warna itu. Warna inilah kenangan itu semakin berbunga. Bahkan ia merasa 7 tahun lebih muda.

“hihihi… Kamu kayak anak madrasah ibtidaiah kalau pake warna itu,” ledek Mbak Ning.”

Seketika kilauan wajah manis itu meredup. Dengan bibir ditekuk dua lipat, kini tangannya menarik warna biru laut, sebelum nempel pada rambut.

“Mbak… Mbak…,” dengan nada lirih Riza merengek.

“Apa… kamu kenapa kesetanan kayak gini??! Aneh banget. Padahal malem jum’at masih jauh. Kayak orang mau dilamar pangeran berkuda putih aja. Tadi sore bilang mau ke IndoApril. Kok mau belanja aja, menor banget. Shiren sungkar Kalah dech manisnya ma kamu.”

Dengan ragu dan merasa kalah, Riza akhirnya mau buka suara. Dua gengam tangannya mencengkram kerudung. Seolah takut direbut Mbak yang didepannya.

“Mbak Mbak inget kan…. Farhan?”

“Anak IAIN itu? Farhan yang sering kamu ceritain? Ada ada dengan dia lagi?”

“Mbak diem dulu. Pokoknya diem dulu. Nggak usah banyak tanya. Okey..”

Keduanya saling berhadapan. Meski ragu, Riza mulai buka rahasia pelan-pelan.

“Mbak inget, kami berdua sudah nggak pernah ketemu hampir 4 tahun, kan. Dan tadi kita chatting. Dia maksa banget ngajakin ketemuan. Akhirnya aku janjian kita ketemu di IndoApril. Dia juga di Jogja. 20 menit lagi pasti sampai. Aku deg-degan, mbak. Pegang nih, dadaku. Jantung mau lompat,” tutur Riza panjang berbunga-bunga… “

“Ya Ampun.. kamu tahu nggak, suami-mu kan lagi ke Jakarta. Tatang juga pergi. Trus kamu mau ajak dia kesini. Kamu mau nostalgia, senang-senang? Anakmu mau taruh dimana?,” protes Mbak-nya marah.

Seketika wajah manis Riza padam kembali. Ia coba lebih tenang ungkap hatinya yang tak karuan, Gini loh mbak. Kita cuma janjian di IndoApril, bukan di hotel, bukan juga tempat gelap-gelapan. Kita cuma pengen liat wajah terakhir. Ngobrol sebentar, sebelum jam 9, aku janji pulang. Mbak jangan pikiran aneh-aneh dulu. Mbak tahu nggak, selama kita dulu bareng, dia nggak pernah buat macem-macem. Megang tanganku aja takutnya bukan main. Dia sopannnnn bangettt. Romantis..”

Mbak Ning masih layu. Ia menatap Yuni, putri Riza yang main duduk menatap kebingungan dua orang dewasa, asik berdebat sejak tadi. Tidak sampai hati, mengapa Riza masih terlalu bersemangat menyimpan kenangan Farhan dulu. Ia memang percaya Farhan, sama persis seperti yang diceritakan Riza. Namun gelisah juga menyelimuti Mbak Ning, kala pertemuan mereka berdua nanti dilihat tetangga. Gosip bertebaran dimana-mana. Dia akan menjadi sahabat, yang membiarkan rumah tangga Riza hancur berkeping-keping sebentar lagi.

“Gini lho, Za. Mbak yakin, Farhan belum berubah. Dia masih selalu sopan. Kamu cerita dua bulan yang lalu, cowok misterius itu, juga sudah tau rumah ini. Tapi hati, tetap aja nggak tenang, Za. Mbak merasa…”

Riza langsung semangat memotong nasihat!, “Mbak aku sadar. Dia juga sudah punya anak istri. Tapi ini kesempatan untuk minta maaf. Apa pun perubahannya, aku cuma mau kasih kesempatan buatnya, dia satu kali aja. Kesempatan untuk melihatku. Aku sudah 3 kali lewat warung pulsanya. Tapi kan dia nggak mungkin ngeliat orang di motor satu-satu. Dia juga nggak mungkin pake interdimensioal terus. Tubuhnya bisa rusak.”

Mbak Ning mencoba trik lain. Sebelumnya, langkah investigasi dirasa perlu.”Kamu punya nomor hape-nya, Za?”

“Nggak Mbak! Aku nggak ngasih. Aku takut dia sms, pas ada ayah di sebelah. Jadi kita cuma chatting aja. Paling cuma kirim-kiriman e-mail. Tapi aku catet nomor dia. Aku Jujur Mbak! Riza memelas.”

Dua tangan Mbak Ning berikut badannya terhempas ke kasur. Mukanya terbuang dari mata-mata sendu Riza. Mbak-nya tahu. Kalau selama ini, detak jantung Riza masih saja bicara soal Farhan. Pandangan kosong Mbak Ning, sejak tadi tersita mata Riza yang beberapa kali melotot ke arah jam dinding. Seakan benda itu hendak runtuh menimpa mereka berdua.

Mbak Ning bangun, duduk sekejap.

“Gini Za menurut Rakosa FM Female Radio, kalau laki-laki suka menggoda sambil genit colak-colek, biasanya cinta yang bersemi cuma singgah. Cuma sebentar aja. Ya, sekedar penuhi nafsu. Sebaliknya, Za. Kalau dia sopan, asmaranya bisa tahan lama bangeeet. Kamu jujur dech, dia pernah ngapain kamu. Kok kamu bisa kayak gini? Kan udah lama banget. Kamu tahu dia dari mana awalnya. Dari Facebook ya. Ah, setan itu bikin kacau aja. Ada aja masalah..”

Riza merasa tertuduh. Emosi, hampir membuat air matanya tumpah. Mbak Ning bicara seperti LPG meledak. Rame, sukar berhenti, dan ngawur kemana-mana. Tolong diam dulu yach….

“Mbak… Mbak ning… ,”sambil sesenggukan Riza mengiba.” Mbak bilang soal Rakosa. Farhan itu, memang sopan. Dia juga kayaknya paham agama. Dan dia tampaknya komitmen sampai sekarang. Mbak tahu dia bikin blog. Saat ingin menikah, aku dicari dari blog itu. Dan.. Mbak salah kalau bilang dia punya Facebook. Aku yakin, dia pasti jaga kehormatannya. Kita cuma pengen becanda kayak dulu. Dia juga pernah janji ngasih buku. Aku yakin dia pasti ngasih. Aku selama ini juga mikirin dia, Mbak. Masa tega sih..”

Tampak hilang kesabaran Riza menghadapi perempuan itu. Dengan sebalnya, peniti yang sudah ditancap, kini ditarik kembali dari jilbab. Riza malah tampak ingin berdiri menukar busana terbaiknya dengan baju tidur.
Cekatan Mbak Ning menarik tangan Riza. Duduk dulu, pintanya berganti mengemis Riza.

“Pertemuan kalian, mudah-mudahan membawa barokah. Jangan sampai rumah tangganya dan kamu hancur. Ingat kalian semua, sudah punya anak. Kalau Allah punya kehendak lain, kalian pasti bisa ketemu yang lebih lama. Dulu Farhan nggak pernah macem-macem, karena masih perjaka. Kalau sekarang, dia pasti tahu, nikmatnya berbuat itu. Makanya Mbak doain, kamu baik-baik aja. Kamu harus ngerti Mbak juga..”

“Mbak ngijinin????!!!”

Mbak Ning hanya menjawab dengan anggukan.

“Asyikkkkkk…” dua tangan Riza mengepal ke atas sambil berjoget-joget.

Riza begitu senang. Seakan menjadi juara Olimpiade. Senyum paling manis, keluar dari pipinya yang lesung kemerah-merahan. Tubuhnya berguling-guling tak karuan. Bantal guling melayang kesana-kemari.

“Ehh sadar! Sadar.!,” tangan Mbak Ning hentikan aksi gila Riza sekejap.

Mbak Ning tanya kembali, “Kalau ketemu, sebetulnya mau ngomong apa sich?”

Seakan tak mendengar suara apa pun, Riza berdiri. Mukanya menatap cermin kembali. Kalau cermin itu bisa bicara, pasti dia akan bilang, Dasar cewek! Kalo ngaca nggak cukup sekali yach!

Mbak yang paling memahaminya itu, melihat Riza keluar dari pintu kamar. Dia seakan sama sekali membiarkan orang-orang di rumah itu sibuk sendiri. Si Mbak bangkit, ia berlari kecil menyusul, “Za.. Riza.!!!”

Riza menoleh. Sepasang sandal Cinderella sudah siap mengantar.

“Za.. Mbak sarananin, kamu ajak juga Yuni. Supaya lebih tenang dan mantap di hati. Laki-laki dan perempuan saling mencintai, kalau nggak ada pihak ketiga.. Kalo dia malah nakal gimana jadinya?!!.”

Riza menatap Yuni polos, putri tunggal yang mirip dengan suaminya. Mungkin semua ke khawatiran Mbak, demi kebaikan juga. Sementara detup jantung, makin berdebaran. Belum pernah ke swalayan dengan jantung se-berisik itu.

“Yu.. Yuni ikut ibu ke IndoApril. Kita beli coklat.”

“Ibu tangen ma Om Farhan Yach. Mo ketemu ma Om, kan?,” tanya Yuni spontan.

Riza kaget. Gadis kecilnya ini memiliki kesamaan yang aneh-aneh dengan Farhan. Cepat menangkap isi pikiran orang. Ya, gadis itu sejak dulu juga sering menggoda ibunya. Sejak lidah cadel mulai bisa dipahami, fasih juga menyebut nama Om yang sebentar lagi akan ditemuinya. Dan langkah Riza semangat seperti hendak mengambil gaji bulanan. Dua pasang ibu dan anak itu kilat pergi, tinggalkan pintu depan. Riza meledek Mbak Ning sambil melambai, “Farhan, I Love U. Muuuach. Dadahhhh.”

***
Sementara Mbak Ning kembali ke ruang tamu. Dia merasa lelah terus membiarkan berdebat. Sepanjang hari, sela waktu selalu menjadi ladang curhat. Tidak lain isinya soal Farhan. Ia bahkan masih ingat, kalo Farhan juga berjanji memberi kado yang serba biru. Warna yang paling di sukai orang-orang Taurus dan Aries. Sebetulnya yang menjadi khawatir, curhat dari Riza, kalau Farhan belakang terakhir suka mengobral cium. Siapa yang tidak suka kecupan lembut dari sandaran hati. Pipi dikecup, bibir iri minta juga.

Mbak Ning sambil duduk merapikan bantal-bantal sofa. Gelagatnya hendak mengambil sapu. Tapi duduk dengan lemas menjadi pilihan tubuhnya. Lantai dibiarkan terus berdebu. Ia kembali melamunkan Farhan. Laki-laki misterius yang belum pernah ditemuinya itu, memang tampak baik. Dari kata-kata, dan dari tulisan seseorang, dapat diketahui juga sedalam apa kejernihan pikiran penulisnya. Menulis tidak berbeda dengan melukis. Media apresiasi yang membedakan.

Ketika dengan Riza dengan semangatnya, menunjukkan blog tentang lelaki itu, sekilas hati Mbak Ning berlumur iba. Mengapa Allah tidak menyatukan dari dulu keduanya. Tapi dia yakin, cinta yang benar dibangun atas taat pada Allah, akan membuahkan syafaat, dan akan membuahkan ketaatan pada pemberi cinta.

Kini yang menjadi kekhawatiran, kira-kira apa yang dilakukan Riza saat ini. Apakah dia akan hilang ingatan saat kekasih impian muncul? Apakah Riza nanti langsung merangkul dan mencium dengan mata yang indah itu, sambil terpejam hingga mabuk kepayang di depan semua orang? Di depan Yuni, putrinya? Gundah hati terus meliputi. Bahkan tadi, Riza tidak menjawab apa yang dilakukan. Dia benar-benar tidak menjawabnya. Apakah dia akan saling menatap saja, lalu saling diam, seperti film-film Korea yang romantis itu? Diam. Diam adalah yang paling baik untuk memahami isi hati terdalam orang lain. Dengan diam, berarti telinga akan memandu hati untuk mendengarkan sayatan hati kekasih. Entahlah..

Dari semua cerita tentang Farhan, yang paling janggal adalah soal kemampuannya. Ia tampak seperti orang yang paling taat pada Allah, Tuhannya. Ia juga tampak mampu melukiskan hati lewat barisan kata-kata. Tau banyak soal teknologi. Menguasai studi Agama yang diambil saat kuliah dulu. Dan cocok menjadi imam shalat karena beberapa ayat Quran yang terus dihafal. Sebetulnya Farhan itu ada berapa orang? Harus berapa lama jika belajar itu semua? Misterius. Sangat aneh sekali.

Lewat 15 menit sudah berlalu. Suara sandal Riza dan anaknya belum juga terdengar kembali. Tangisan apa yang nanti dibawa. Apa suara tangis merana, atau sebaliknya. Ya. Farhan juga manusia. Barangkali kali ini mereka berdua saling kuat mencakar. Karena luka-luka lama akan terungkit kembali. Tapi hati ini percaya. Jika memang cinta setulus hati, selalu ada maaf di setiap duri.

Gelisah Mbak Ning, akhirnya diusir dengan mengangkat kedua tangan. Berdoa. mengemis, memohon kepada orang yang selalu menjaga hati. Ya Allah berikan Riza, Nurajab. Nur penjawab. Cahaya pengabul. Pengabul dari doa-doa yang terlintas dari betikan hati, yang belum sempat terucap dari bibir ini. Kepada-Mu hati yang selalu berubah ini ku pasrahkan. Kalau memang ini yang terbaik, berikan Riza sedetik saja senyum bahagia, bersama orang yang terselip di hatinya. Amin.

***
Derap langkah Riza dan Yuni kini masuk ke ruang tamu. Tak sabar membongkar semua isi kresek putih yang sembunyikan cokelat batangan. Riza menatap lemah pada Mbak Ning yang sejak tadi di situ. Dengan sesenggukan, tak lama ia menubruk tubuh Mbak-nya. Leleran air mata tumpah membanjiri dada keduanya. Padahal Yuni di situ hanya bingung dengan mulut bernoda coklat.

“Za Ada apa.. kok nangisnya kayak gini? Kamu diapain? Dia nyakitin kamu?”

“Benci… aku benci, Mbak.”

Yuni juga bingung. Ibunya tiba-tiba histeris. Tapi Yuni membiarkan dua ibu-ibu itu.

“Kenapa dia malah macem-macem sama kamu, Za?”

“Jawab Za! Dimana Farhan sekarang!”

Hanya tangisan keluar dari bibir Riza. Wajah manis itu hancur. Muka kusut tak berbentuk. Mbak Ning kehabisan akal mendamaikan suasana. Riza juga tak mau membuka bibir. Mbak Ning merasa, ada yang salah pada doa-nya. Dia teringat doa tadi. Atau memang harapan-nya tidak sesuai. Mbak Ning coba mengorek info dari si kecil yang polos, Yu tadi ibu diapain Om?

“Om-nya nggak dateng. Trus ibu nelpon”

“Oh gitu., lega hati Mbak yang lelah menahan.”

“Riza pun kini melepas rangkulan lalu buka suara, Dia nggak dateng mbak. Teganya dia.. Pas aku telpon, katanya nggak berani ketemu. Dia pembo….hong…, Mbak.”

Napas panjang ditarik Mbak Ning. Udara segar masuk ke dalam rongga paru-parunya. Sambil mengusap rambut kepala Riza, ia bahkan terus membiarkan tangis-tangis rindu yang tercampur dengan harap dan kecewa itu, keluar sebebas mungkin. Dengan tangis, semuanya emosi akan berubah menjadi energi baru. Energi dalam bentuk lain.

Akhirnya Mbak Ning menutup semua itu sebelum pamit,”… Za mungkin Farhan benar-benar orang baik. Dia tidak mengganggu dengan saat kamu bersama dengan suami. Selama ini dia juga biarkan kamu menjadi ibu dan istri yang taat pada suami. Kamu pasti inget yang pernah mbak pesan. Tidak terkabulnya doa kita hari ini, bukan berarti Allah nggak sayang. Dalam Quran, Allah Swt bilang begitu. Artinya bukan berhenti berdoa. Cinta kalian kan karena Allah. Buktinya, kalian sejauh bisa menahan diri. Menahan godaan. Farhan Farhan. Mbak juga jadi pengen punya suami kayak dia…”

Riza diam. Campur cemburu, tangisnya turun mereda.

Tiba-tiba ringtone Nokia Mbak Ning menyalak. Nomor asing muncul di situ. Dan ketika diangkat sambil di-loudspeaker. “Mbak ini Farhan. Tolong sampaikan, supaya Riza berhenti nangis. Kasihan Yuni jadi bingung. Liat aja coklat-nya berantakan kemana-mana. Saya masih selalu menyimpan cintanya di hati. Kelak doa kita pasti terkabul. Makasih.”

Telpon terputus.

Spontan wajah Mbak Ning pucat, gemetar sambil memegang hape.

Riza mendahului sebelum Mbak Ning komentar, “Tuh kan mbak. Dia kayak FBI. Dari mana dia bisa tahu nomor mbak?? Nomor hape-ku aja dia nggak tau…”"


TAGS Cerpen Islami


-