
Berbagai macam corak bendera, mulai banyak kulihat di jalan-jalan. Banyaknya para pedagang musiman itu, secara tidak langsung mengingatkanku. Kalau sebentar lagi, usia bangsa ini bertambah. Tapi ada hal yang membuatku sedih. Mungkin saja, perayaan agustusan kali ini, bagiku tiada yang berbeda. Sama seperti tahun-tahun kemarin, aku hanya sebagai penonton. Aku tidak pernah bisa lagi mengikuti lomba-lomba apa pun setiap menjelang 17-an.
Aku dapat memaklumi, status kependudukan di kota ini, hanya sebagai pendatang. Bagiku lomba agustusan hanya milik pribumi, bukan milik setiap warga negara. Dari pihak manapun, tidak pernah ada tawaran. Apalagi lomba panjat pinang yang paling seru. Negara lain mana pun belum pernah kudengar ada lomba panjat pinang, dalam perayaan ulang tahun mereka. Kalau pak RT ditanya soal syarat peserta lomba, paling dijawab hanya dengan senyuman dan anggukan kepala.

Aku jadi ingat, PEMILU tahun ini juga tidak didata dari PANWASLU. Ketika kudatangi ketua RT, dia hanya menjawab, “Itu urusan KPUD, bukan aku”. Menyedihkan memang. Kehilangan hak pilih, hanya karena urusan lempar-melempar tanggung jawab. Padahal statusku tidak masuk dalam daftar hitam kepolisian. Terlebih, KTP dalam dompetku juga masih aktif.
Sejenak kita lupakan soal lomba dan hilangnya hak pilih. Kekecewaan–semacam diskriminasi—terhadap status penduduk asli dengan pendatang, kadang merata di setiap daerah. Ada hal lain, yang membuat kupingku memerah, terkait dirgahayu bangsa ini yang ke-64.
Dua hari yang lalu, ada turis bule yang datang ke kota kami. Awalnya londo (sebutan akrab turis asing di tempat kami), datang karena ketertarikan dengan produk furniture yang kutawarkan lewat email. Karena rekanku bagian marketing berhalangan, aku harus turun ke lapangan untuk menemui tamu. Dengan mengendarai mobil, aku menjemputnya di hotel—sebut saja Hotel Mulia. Sikap menyambut tamu dengan keramahan, seperti tersenyum dan berkata yang baik, menjadi tradisi khas dari kota gudeg, yang tertular kepadaku. Kota ini menjadi nyaman di mata bangsa asing, karena sikap keramahan penduduk.
Aku menemui mereka di lobi hotel. Londo itu keluar dari kamarnya, ditemani seorang pemandu wisata berwajah pribumi. Setelah saling berkenalan, kami duduk bersama. Aku mengeluarkan sebatang rokok, lalu membakarnya. Bule itu juga ikutan merokok. Andre yang lahir asli dari Semarang, juga bergabung mengambil rokok disakunya. Suasana menjadi kian hangat dan akrab, setelah kami terlibat merokok bersama.

Masih di dalam lobi hotel. Tak lama suasana kehangatan kami berubah cepat. Londo itu mulai berkelakar, kalau negeri ini penuh dengan bom. “Aku membaca berita bom dari detik.com, sebelum sampai di bandara Adi Sucipto”, kata londo itu. Aku terdiam membisu. Aku paham, kalau detik.com, situs berita yang paling cepat di internet. Kabarnya selalu aktual, dan memang agak jujur. Lebih dari itu, kudengar negara lain juga sering menjadikan detik.com, sebagai referensi keadaan negeri ini.

Aku masih terdiam. Dengan sikap ini, kuharap topik soal bom kemarin tidak panjang lebar. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan ke arah bisnis saja. Tapi dia terus melanjutkan lagi pembicaraan soal bom. Bahkan dia berkata sambil tertawa,” I don’t fear, because you don’t bring bags to this place“. Lagi-lagi aku paham maksudnya. Londo itu mengingatkanku, kalau pelaku pemboman kemarin membawa tas ke dalam lobi hotel. Aku bukan teroris, mengapa harus tersinggung. Apalagi tak ada tas yang kubawa.

Akhirnya dia sendiri mengalihkan topik pembicaraan seputar bom. Katanya bangsa ini maju dalam teknologi, karena budaya software bajakan. Alis mataku sedikit berkerut mendengarnya. Aku mulai dibuat gerah. Kata-katanya membuat hatiku terpanggang. Posisi IT yang aku emban di pabrik, juga terkait soal software komputer. Mengapa dia bekata begitu kepadaku? Jelas secara halus, dia juga kembali menuduhku sebagai pendukung warga negara, yang bangga dengan “software bajakan”. Lagi-lagi aku hanya diam, pura-pura tidak tahu. Sesekali hanya melempar senyuman. Meski senyuman itu sangat tidak ikhlas kalo dilihat. Harga diriku serasa tergadai. Rasanya aku ingin meninju muka bule itu. Tapi demi citra baik, aku berusaha agar urat leherku tidak keluar. Sindirian-sindirannya, sangat menyakiti perasaan.
Londo itu mengatakan, kalau bulan ini (Agustus) adalah hari ulang tahun negara ini. Dia melanjutkan, kalau ada lomba unik menaiki batang pohon. “Yes…tree climbing competition“, tegas bule itu menyakinkanku. Menurutnya kalau dalam lomba panjat itu, untuk merebut hadiah, harus saling mengijak-injak kepala.

Aku mulai berpikir lomba apa yang dimaksud. Sepertinya tidak ada lomba yang pakai injek-injekan segala. Apalagi sampai kepala orang. Aku masih menerka, kira-kira apa maksud kata-katanya. Yang jelas, pasti ujungnya cibiran lagi terhadap bangsa ini.
Ternyata tebakanku benar. Andre berkata kepadaku, “Maksudnya lomba panjat pinang”. “What names, panjat pinang?”, tanya londo itu sambil terbahak. Katanya lomba perebutan hadiah itu, sangat cocok bagi negara miskin seperti Indonesia. Menurut pendapatnya, beberapa benda yang tidak terlalu mahal, harus diperebutkan dengan cara rendah—maksudnya menginjak kepala—seperti itu. Baginya itu sangat bodoh dan tidak manusiawi.
Mata ramahku kemudian berpaling ke arah Andre. Tawanya sangat lebar hingga kerongkongannya terbuka. Aku sebal sekali dibuatnya. Tampaknya Andre juga sepakat, kalau lomba panjat pinang, adalah itu wujud hiburan bagi negara miskin. Aku hanya heran terbengong dengan sikap Andre. Padahal dia juga orang Indonesia asli.

Bagi aku ini bukan masalah individu. Ini terkait pelecehan martabat bangsa. Dari masalah software bajakan yang marak di negeri ini, lalu soal lomba yang cocok bagi orang miskin. Seakan bangsa ini terlalu rendah buat mereka berdua. Terlebih Andre. Harga diri bangsanya terus diejek. Tapi teman bulenya dibela terus. Meskipun kontribusi yang kuberikan untuk bangsa ini sangat kecil, namun aku cinta bangsa ini dengan segala kekurangannya.

Dari awal tiba, sikap mereka berdua seakan memandangku seperti keledai bodoh. Hanya terdiam dan selalu tersenyum mendengarkan canda-tawa mereka yang melecehkan bangsaku. Jiwa mudaku tak bisa lagi dibendung. Kesabaranku mulai menipis. Wajah buasku menatap tajam kepada Andre. Kukatakan dengan suara lantang, “I WAS BORN HERE, YOU ALSO. WHY DO YOU TAUNT PEOPLE OWN? WHY SHOULD THE SPOUT OF NATIONALISM, BECAUSE OF THE FOREIGNERS?
(kira-kira artinya begini: Aku lahir disini, kamu pun juga. Mengapa kamu mengejek bangsamu sendiri? Mengapa nasionalisme harus tergadai gara-gara teman bulemu?)
Setelah puas memaki bule pribumi itu, aku terdiam beberapa detik. Kuberi waktu untuk Andre memikirkan kembali sikapnya. Ternyata, tampak tidak ada penyesalan sama sekali di matanya. Mungkin suaraku hanya dianggap ocehan burung beo. Dia malah tertawa sambil merangkul bahuku, “Santai saja friend, itu kenyataan kok.”

Sikap Andre membuatku makin tidak terkendali. Jawaban Andre makin mempercepat aliran darahku. Kuambil korek dan rokok di atas meja. Lalu aku berdiri kemudian berkata sambil melotot, “Siang yang indah. Aku senang bertemu dengan kalian.” Kemudian aku perlahan melangkah keluar, pergi meninggalkan mereka dari lobi hotel itu.

Aku kembali ke pabrik untuk melaporkan hasil pertemuan tadi. Ibu direksi tampak sudah menunggu di mejanya. Tanpa banyak kata, dia tak sabar langsung menanyakan tanggapan londo terhadap produk kami. Dengan berat hati, aku bercerita semuanya dari awal. Mataku tertunduk melihat lantai. Dalam batinku, beruang gendut berbaju ketat ini, pasti menggebrak meja dan mengusirku keluar ruangan. Itu pun masih bersyukur kalau “surat kematian kerja” tidak dijatuhkan.

Sempat terlintas sedikit penyesalan. Mengapa harus membentak kedua tamuku. Hanya gara-gara membela panjat pinang, pekerjaanku terancam. Sungguh sangat tidak sebanding, antara panjat pinang dengan karirku. Kusesali apa untungnya mengumbar emosi. Tapi aku merasa, bangsa ini patut dihargai. Sikap mereka di hotel sudah sangat keterlauan.

Dari tadi ibu hanya diam terpaku. Perlahan matanya bergerak-gerak, melihatku dari atas ke bawah. Sesekali pandangan mataku beradu. Kembali aku tertunduk. Badanku seakan demam mendadak. Kubayangkan kuku panjangnya yang tajam akan mencakarku. Wajahku bisa infeksi. Uuuuuuuhhhh…. takuttttttt…..
“Saya paham kamu masih muda”, ucapnya sambil tersenyum. “Saya juga suka liat panjat pinang, apalagi kalau kamu yang jadi peserta besok,” lanjutnya dengan suara rendah.

Alhamdulilah…….
—ooOoo—
Buat pembaca. Terimakasih telah membaca kisahku. Aku tidak mengajak kamu ikutan panjat pinang. Aku hanya mengajak untuk menghargai bangsa. Sebobrok apapun keadaan bangsa ini dimata orang lain, tapi ini tanah air kita. Negeri tempat kita dilahirkan. Kalau bukan dimulai dari kita, siapa lagi yang akan membela martabat bangsa.
yes.! hidup indonesia.!
http://addicted2thatrush.blogdetik.com
6 Agustus 2009 @ 19:05Martabat bangsa memang di tangan kita. Siapa lagi yang menjaga kalau bukan kita sendiri.
Martabat memang selayaknya hadir dari nurani yang peduli terhadap kehidupan. Selayaknya hadir dari sikap dan perbuatan yang selalu ringan tangan dan memberi. Selayaknya hadir dari jiwa-jiwa tanpa pamrih. Demi kehidupan itu sendiri, demi menjaga amanat dan rasa syukur atas anugerah yang tak terhingga yang diberikan sang pencipta.
Apalah artinya martabat tanpa penghayatan terhadap kehidupan, tanpa melakukan apa. Martabat adalah perbuatan.
Maryam Jameela,…
7 Agustus 2009 @ 05:39Merah putih Indonesiaku, tulisan yang bagus dan menyentuh rasa kebangsaan…
Saya terkesan dengan ceritanya, tentang masalah kekurangan sistem, tentang software bajakan, tentang teroris, dsb.
7 Agustus 2009 @ 11:27Mungkin bila saya mengalami hal yang sama juga akan marah, tapi itulah kenyataan, bule itu hanya mengetahui Indonesia kulitnya saja, yaitu dari apa yang mereka baca tentang Indonesia, dan ku akui negara ini memang memiliki reputasi yang kurang baik di mata internasional, dan itu tidak boleh kita pungkiri, memang demikianlah adanya, walaupun tidak semua pandangan bule itu benar.
Tugas kita sebagai ORANG INDONESIA yang CINTA INDONESIA, mari kita rubah image jelek tentang Indonesia, mari kita kelola dan kembangkan budaya kita sendiri dan semaksimal mungkin dengan BANGGA, turis aja suka dengan budaya kita, mengapa tidak dikembangkan? kok malah nyontek dan membajak budaya asing?
Ngomong memang mudah, tapi usaha sekecil apapun harus kita sumbangkan hanya untuk Indonesia
Sukses semua dan…. MERDEKA !!!!
kalo sy yg ngalamin kek gitu udah tak injak2 tuh bule ma tmennya! tp, aku punya tmn bule kok cinta banget ma Indonesia? mungkin beda2 kali y…
7 Agustus 2009 @ 11:56Wah bule itu tidak tahu, philosophi Panjat Piang ya! Kasihan dia……
Kalo aku ketemu dia sih, kubilang philosophinya
“Bahwa, ini adalah bentuk dari kerjasama. Indonesia itu terkenal dengan kegotong-royongan, dulu kalau mau pindah rumah. seluruh tetangga membawa kerangka rumah (yang terbuat dari kayu) ke tempatnya.
setelah itu makan bareng dll.
Kecil rasanya namun membahagiakan, begitu juga dengan panjat pinang! Kecil rasanya dapat hadiah yang tak seberapa. Tapi semangat kegotong royongan itu yang ada, kerjasama!
Ada yang mengambil, ada yang menahan dibawah! dll….
Namun, ketika hadiah itu didapatkan kemudian hadiah itu habis. Memori kerjasama itu yang akan terngiang.
Kalau ada bule yang ngomong begitu, bilang…begini
“Sayang ya,….kau terlalu bodoh untuk tidak mengetahui philophosi itu…”
serujadiguru.blogdetik (salam kenal
)
7 Agustus 2009 @ 15:35Maaf commentnya agak emosional,he…he….
Sodara-sodara sekalian..!
Salam Nasionalisme..!
Memang..komentar-komentar miring dan pandangan error
seperi wong londo itu sering membuat hati kita panas.
Kita memang sadar, banyak kebobrokan di negeri yang kita cintai ini, yang mau tak mau membuat kita malu.
Makanya, saatnya kita sadarkan diri, Apa yang bisa kita perbuat untuk kebaikan bangsa ini..????
Maaf kalau terkesan menggurui, tida maksud begitu..!!!!
7 Agustus 2009 @ 20:48Yach..meskipun berbeda, tapi temen2 satu pandangan.
7 Agustus 2009 @ 21:57Kadang keramahan kita dianggap perlakuan “budak” terhadap “majikan”. Makasih atas komentar-komentarnya. Berikan yang terbaik untuk bangsa ini. Dirgahayu Indonesia Ke-64!
lam kenal mbak. di solo ato jogja? aku asli solo..blognya wes mantab..
8 Agustus 2009 @ 23:35butuh banyak keberanian untuk memberikan penghargaan pada bangsa ini dan kita memang harus selalu mencoba untuk melakukan yang terbaik buat negara dengan cara kita
9 Agustus 2009 @ 01:13seringkali orang memandang sesuatu dari penampilan luarnya tanpa menatap lebih jauh makna dan filosofinya, termasuk orang bule itu .. tapi mohon dimaklumi ajalah yang terpenting kita berikan yang terbaik untuk negeri ini.
9 Agustus 2009 @ 14:48Merdeka
Seharusnya kita membekali diri dengan wawasan yg cukup dan kemampuan berargumentasi atau berdebat. Sehingga jika ada bule atau hitam ataupun pelangi atau apalah yg “korek2″ masalah Indonesia, kita sudah siap jawabannya.
9 Agustus 2009 @ 16:35Sebagai contoh kasus terorisme. Kebetulan sy share room dengan seorang kawan dari Rusia. Di suatu koran ia tunjukkan kpd saya kasus bom Mariot lalu. Sy katakan kpdnya bahwa SY TIDAK PERNAH PERCAYA SEMUA KASUS BOM DI INDONESIA. Mulai dari Bali I hingga yg terakhir. Semua itu lebih kental nuansa politiknya dp murni terorisme. Ia akhirnya setuju dan bahkan menyatakan bahwa WTC di AS sana Bush lah sendiri yg mem-bom-nya.
Salam.
subhanallah, saya salut dg anda…:)
9 Agustus 2009 @ 16:38wiw !
9 Agustus 2009 @ 18:24kren bgt krya.a?
hha
karya yang bagus.. ya begitulah martabat bangsa ini sudah terlalu direndahkan,.. tidak terlalu heran dan bingung.. selamanya tetap akan begini adanya, jika semua orang bersikap seperti itu… hehe..
9 Agustus 2009 @ 18:42salam kenal,
postingannya mantap sekali,
sukses selalu,
salam.
9 Agustus 2009 @ 20:33walaupun indonesia ini bobrok dimata didunia kita harus tetap jaga martabat bangsa ini…Love indonesia FULL
10 Agustus 2009 @ 09:44“I WAS BORN HERE, YOU ALSO. WHY DO YOU TAUNT PEOPLE OWN? WHY SHOULD THE SPOUT OF NATIONALISM, BECAUSE OF THE FOREIGNERS?”
ini memang kenyataan yg ada di Indonesia..tmnmu hanya salah satu dari sekian banyak orang….betapa beruntungnya Indonesia have people like u
10 Agustus 2009 @ 10:28Salut MaryamJameela .. atas keberaniannya memprotes mereka berdua .. dengan sikap tegas seperti itu, londo itu akan tahu bahwa tidak semua bangsa Indonesia rela direndahkan begitu saja ..
10 Agustus 2009 @ 12:58Mungkin londo itu belum tau sisi indahnya Bangsa ini, makanya dia berucap seperti itu ..
Sarankan dia tinggal di Indonesia agak lamaan aja Mar, biar dia juga sempat merasakan indah dan tahu sisi bagusnya Bangsa kita ini ..
Semoga postingan ini dapat menjadi pemicu semangat untuk bersama-sama mengubah image yang terlanjur jelek .. bersama-sama memberikan yang terbaik untuk Bangsa tercinta ini ..
Mau beriklan gratis Pasang Iklan Gratis
Hidup Indonesia…!
10 Agustus 2009 @ 15:15Saya juga sangat bangga dilahirkan sbg orang Indonesia…eh, kenapa saya kok merasa nulis komentar di blog sendiri sih…
MERDEKA !!!!
10 Agustus 2009 @ 16:49Nice post bro ..
MERDEKA utk Indonesia, mudah2an Indonesia makin berjaya!
10 Agustus 2009 @ 17:00salam kenal, makasih ya atas kunjungannya
hidp, ubah dunia
10 Agustus 2009 @ 17:04Negara ini negara besar.. mereka (londo) takut Indonesia menjadi negara kuat & maju.. mari rapatkan barisan.. menyongsong masa depan negeri yg gemilang.. maju terus bangsa ku..
10 Agustus 2009 @ 19:02ada memanng orang Indonesia yang gengsi mengaku sebagai oarang Indonesia hanya karena mereka tengah berbicara dengan foreigner. sungguh memprihatinkan.
10 Agustus 2009 @ 21:28wah,, ikut panjat pinang ah…
13 Agustus 2009 @ 20:45Alhamdulillah ..
14 Agustus 2009 @ 00:18masih banyak anak negeri yang nasionalisme..
succes ya…
Terima kasih telah berkenan mampir. Bagi saya bendera bukan SATU-SATUNYA standar dari kepahlawanan. Upacara bendera setiap senin di instansi pemerintah tidak menunjukkan tingginya nasionalisme ketika uang negara dihamburkan lewat perjalanan dinas fiktif, bagi-bagi sesaji, dan sejumlah “kebijakan” lain untuk kepentingan memperkaya diri. Kepahlawan hari ini tidak diukur dari Bendera yang kita kibarkan setahun sekali. Tapi dari sebuah sikap yang lebih nyata dari semua pihak yang mengaku anak negeri. Yang saudara lakukan (mas atau mbak?) dengan membantah turis dan teman yang melecehkan bangsa ini adalah bentuk dari sebuah “pengibaran bendera” kehormatan bangsa ini. Izin nge-link ya. Boleh?
14 Agustus 2009 @ 09:24Klasik banget sih, tetep negara kita? ha ha ha kalo negara dah ga bisa ngurus rakyat? Gimana? Ya ikutan panjat pinang, buat membuang kepenatan. Cukuplah rakyat di hibur dengan hiburan murah meriah.
14 Agustus 2009 @ 15:47Makasih buat ceritanya ya…
mau ganti avatar doang kok, njajal daripada di hina terus
14 Agustus 2009 @ 16:53Makna kuat yang terkandung dalam untaian + rangkaian kata dan kalimat yang BAGUS…
senang bacanya..
salam kenal..
15 Agustus 2009 @ 12:20Hampir merdeka !!!
15 Agustus 2009 @ 13:32belum utuh neh merdekanya, kayaknya baru setengah2, mungkin nanti, kapan2 kalo dah merdeka bener ngomong yah.
baru jiwa dan raga ja, ekonomi belum, he2. bagi yang dah merdeka, moga merdeka terus, “victory is not free”
sepertinya semangat #indonesiaunite harus makin direalisasilan nii
dirgahayu Indonesiaku
15 Agustus 2009 @ 20:45wah, sebuah keberanian yang mungkin tidak dipunyai semua warga indonesia. memang walaupun dalam kenyataannya negeri ini selalu carut marut, namun sangat tidak etis apabila kita hanya dapat menertawakannya saja. kita punya kewajiban atas bangsa ini, sebagai generasi muda Indonesia, masa depan bangsa ada di tangan kita!
15 Agustus 2009 @ 21:59Iklan Baris Gratis
maaf saiia juga gag kenal jeneungan… tp bukankah tujuan kita membuat blog adalah memang demikian?!?! eksis di dunia maya walau tanpa harus saling mengenal… meskipun sedikit mengetahui tentang org lain tu lebih baek dari pada gag sama sekali… makanya ada istilah BW… bisa saling mengenal dari yg awalnya emang sama sekali gag kenal.. hehehe.. blibed amir dahh bhsa nya nii.. grogi soalnya…
pko’a salam kenal ajja en dirgahayu Republik Indonesia ke 64.. MERDEKAAA!!!
o iy lupa.. thnx for the visit with your nice support on my blog
@ Iklan Baris : maaf sampeyan blognya mbuat saiia binun.. mo komen dimana saiia gag tau.. jd saiia bales dmn pun ada kesempatan saiia ketemu sampeyan, baik di blog saiia maupun di blog temen2 yg saiia kunjungi…
17 Agustus 2009 @ 14:55Pokoknya salam merdeka bagi kita semua, cerdaskan bangsa agar tak lagi dibodohi dan dijajah bangsa lain, merdeka
17 Agustus 2009 @ 17:37Bagiku bule atau pribumi adalah sama. Mereka sama-sama manusia, punya cara pandang berbeda memandang bangsa Indonesia.
Kuangkat kisah ini dari keseharianku. Karena berkesan, kutulis dalam diaryku. Aku masih ingat–selalu–kala mereka berdua meremehkanku. Memandang panjat pinang sebagai lomba “murahan”, mungkin hanya bersifat person saja.
Aku tidak tahu, apakah gara-gara tulisanku, bule jadi ikutan lomba panjat pinang.Silahkan baca: Bule dan Masyarakat Berebut Lomba Panjat Pohon Pinang di Ancol.
Atau mungkin kita saja yang tidak perduli terhadap bangsa. Hingga martabatnya begitu rendah di mata oarang lain.
18 Agustus 2009 @ 11:34
jangan disamaratakan. banyak juga kok “bule” yang menghargai budaya dan kesenian di INDONESIA ini.
salut untuk anda. banyak yang hanya berani bicara tanpa berani berbuat, tapi tidak dengan anda. salut!
MERDEKA..!!!
http://kalasenja.blogdetik.com
salam,
19 Agustus 2009 @ 10:35kalasenja
mereka (londo) itu salah kalau menilai negara kita miskin.
indonesia kaya dengan alamnya,kebudayaannya dan masih banyak lagi yg tidak dipunyai negara lainnya. Temasuk negara mereka (londo) itu.
20 Agustus 2009 @ 14:18wah menarik untuk disimak,
http://pas*oepa*ti.blogdetik.com
20 Agustus 2009 @ 21:14Salam semangat Brur… maju perut pantat mundur… Itu mah kegemukan. hehehe. Ikut senang atas nasionalismenya….
21 Agustus 2009 @ 18:43aduh, menghina yaa bilang tulisan saya bagus?!
maklum lah, saya junior yg masih butuh dibimbing.
salam kenal yaa, Maryam
26 Agustus 2009 @ 17:32uwhao!!
26 Agustus 2009 @ 18:07bagus ceritanya, biar gimanapun rasa bangga kebangsaan ga pernah mati.
lega rasanya abis ngebela harga diri sendiri & harga diri bangsa.
26 Agustus 2009 @ 18:21Salut atas sikap dan tindakannya membela nama baik negeri tercinta. Lebih baik hujan batu di negeri sendiri dari pada hujan emas di negeri orang.
27 Agustus 2009 @ 15:14salut deh, buat nasionalismenya…
27 Agustus 2009 @ 23:17Bangkitlah Indonesiaku
28 Agustus 2009 @ 03:54Wah aku terharu.. aku betul betul terharu. Kisahmu menyukutkan kobaran cintaku pada negeri ini!
28 Agustus 2009 @ 09:23Nice post…
Mampir kseni yh yg blm komen
http://www.*pinkie48.*blogdetik*.com
—– Reply ——
28 Agustus 2009 @ 09:32Hera. Jangan nye-pam yach.
Pa kabar miss ‘Maryam Jameela’, terima kasih ya dah mampir ke blogku.
Hal yang kamu lakukan pada mereka berdua itu kurasa patut diacungi jempol, disaat makin banyak rekan2 qt yang sudah hampir hilang kepedulian pada martabat bangsa. Kau telah membuktikan bahwa kamu itu beda. Masih ada jiwa2 patriotis, nasionalis yang tertanam dalam dirimu. Moga2 hal itu juga masih tertanam dalam diriku.
*sepertinya aku kenal nih dengan penulisnya.
29 Agustus 2009 @ 17:16Panjat pinang … kegembiraan panjang …
Masih ada jiwa2 patriotis, nasionalis yang tertanam dalam diri kita …
29 Agustus 2009 @ 22:06keren banget bulenya. good posting..
31 Agustus 2009 @ 11:21kasih masukkan juga y sama blogku. i need it so much fren ^^ ni url: http://inspire4soul.blogspot.com
Ini dia, anak bangsa sejati… gua juga bangga banget jadi orang Indonesia, gua cinta Indonesia,
gua ORANG INDONESIA, gua warga keturunan Tiong Hoa, tapi gua sangat cinta Indonesia. Indonesia negara besar, gua sayang sama hasil buminya, keindahan alamnya, orang-orangnya dari suku apapun… kita semua tetap SATU, BANGSA INDONESIA!
Indonesia itu kita, kita itu Indonesia! ini buktinya, curahan hatiku untuk Indonesia…
HIDUP INDONESIA, GREAT BLOG, Sis…
31 Agustus 2009 @ 20:04Martabat Bangsa dapat diTinggikan setinggi-tingginya… namun tergantung bagaimana kita sebagai kaum muda mau berbuat untuk Bangsa ini..
4 September 2009 @ 11:50Mulailah mencintai Budaya bangsa ini dengan terjun langsung dalam pelestariannya… contoh seperti yg dilakukan anak2 Pencak Silat Beksi Petukangan.. Mereka terus memperkenalkan Seni Bela Diri Pencak Silat Beksi ke seluruh jakarta tanpa lelah (ya di Jakarta dulu karna ini seni bela diri asli Betawi)
karena secara nyata Seni Beladiri yg dimiliki Orang Betawi ini malah sudah mulai tidak dikenal oleh mayoritas anak muda jakarta…
Coba bayangkan jika tidak terus diperkenalkan, bisa2 1-2 th yg akan dtg Malaysisa sudah mengKlaim Seni Bela Diri ini sebagai kepunyaan mereka..
ada hikmah disetiap peristiwa, tak terkecuali dengan panjat pinang.
7 September 2009 @ 09:33postingan yg inspiratif. salam ngeblog dg taste
so nice… lam kenal
11 September 2009 @ 07:57Maju Indonesia ……..!
pantang menyerah…….
Semangat teruz………
mari bangkit dari ketertinggalan kita…..
11 Nopember 2009 @ 11:57