Roman Yusuf-Zulaikha Penghantar Tidur

5 Aug 2009

Jam di komputerku menunjukkan tepat pukul 12 malam. Sebetulnya ini waktunya untuk kembali ke kostku. Tapi aku masih “bertapa” di tempat ini. Mataku masih terpejam segar. Rasanya sukar kalau belum “melepaskan” beban lewat tulisan. Kalau masalah ini sampai terbawa dalam mimpi, bisa ditebak dech, aku pasti mengigau. Kalau sudah begitu, nasib rumah tangga di ujung tanduk. Tangan istriku di pinggang sambil melotot, “Siapa wanita yang kamu sebut tadi malam dalam mimpimu? “. “Aku tidak ingat, lagian itu cuma mimpi tohhh,” jawabku sambil membela diri.

Aku tidak bisa memungkiri, sudah 5 hari ini lebih banyak berteman dengan malam. Ada masalah penting yang sebenarnya, perlu kuselesaikan secepatnya. Kalau belum selesai, berat badanku bisa turun drastis. Masalahnya cukup aneh. Dibilang kecil tapi besar juga. Dibilang besar tidak juga. Kalau cuma masalah ekonomi, relasi, tetangga dan seabrek problem lain dari rumah tangga, mungkin saja istriku tidak akan melotot. Tapi soal asmara dari pihak ketiga, “tanduk”nya bisa keluar. uuuuhhhseraaaaaammmm!

Dua hari yang lalu, buku “Taman-Taman Orang Yang Jatuh Cinta Dan Memendam Rindu”, harus keluar dari rak besarku. Sampulnya sudah usang. Kusapu debu tebal yang menutupi sampulnya. Aku sampai terbatuk. Alergi debu, membuatku tenggorokanku gatal. Kepeluk dengan erat, lalu kutaruh buku tebal itu di dadaku. “Ya ampun, dari ratusan buku di ruangan ini, kamu yang tidak pernah kupegang sama sekali,” batinku bicara.

Kurebahkan pantatku di sofa depan. Lembar demi lembar kubuka. “What the core my problem” Buku yang ditulis Ibn al-Qoyyum al-Jauziyah, aku membelinya saat masih di kerja Wing’s, delapan tahun yang lalu. Saat jatuh cinta sesama rekan kerja, aku menamatkannya hanya butuh satu malam. Kini buku itu harus “kulahap” kembali. Dengan harapan ada sedikit titik terang masalah cintaku.

Upssss akhirnya ketemu. Ada satu bagian yang mengisahkan asmara Yusuf dan Zulaikha yang menjadi bahasan. Disitu terselip ayat al-Qur’an yang menjadi kunci jawaban “soal ujian” minggu ini. NahSurat Yusuf tepatnya. Jangan salah sangka dulu. Aku bukan karena lagi mitoni (tradisi 7 bulanan) baca surat Yusuf segala. Tapi lagi nyari petunjuk lho. Setelah beberapa kulantunkan, mataku terhenti pada. Walaqod hammat bihi wa hamma biha. Tanpa butuh kamus, alhamdulillah aku sudah paham. “Sesungguhnya dia (Zulaikha) berhasrat, dan begitu juga (Yusuf) berhasrat.” Finish dech masalah langsung kelar saat itu juga. Aku mau mandi, biar waras lagi.

Intinya dalam ayat itu, Allah Swt menguji gelora cinta YusufZulaikha dari kedurhakaan. Allah-lah juga yang menanamkan hasrat kepada keduanya. Cinta dijadikan Allah, sebagai ujian terberat kehidupan mereka berdua, untuk dijadikan hikmah bagi yang lain.

Penggalan kata itu, sudah cukup untuk menjawab langkah apa yang seharusnya kulakukan. Cinta bukan kehendak dari kita sendiri. Ia cobaan, sama seperti yang lain. Jika ikhlas menerima dari derita yang satu ini, maka dua hal yang salah satunya didapatkan; Pertama penyatuan hati di kemudian hari. Atau kedua, ganti yang lebih manis, manja, sexy, cantik dan lebih pintar darinya. Sebaliknya, kalau berusaha merusak “cincin”, semuanya akan binasa. Ujian berat keikhlasan adalah kobaran api cinta, yang tidak pernah kami berdua tahu, bagaimana dan kapan padamnya.

Ada bagian menarik dalam buku itu, terkait Zulaikha. Wanita yang molek itu, ditemui Yusuf dalam keadaan kurus kering dan pucat. Mantan nyonya besar itu, harus merana karena cinta. Yang ia lakukan, hanya mencoba setia selama bertahun-tahun kepada tambatan hatinya. Setiap hembusan nafasnya hanya kata “Yusuf” yang keluar dari bibir pucatnya. Kehadirannya menjadi semacam tetesan embun di padang pasir. Ia memang tampak kecil dan tidak berharga bagi orang lain, tapi bagi Zulaikha tidak digantikan dengan apa pun.

Cinta Yusuf pun sama. Tapi roda nasibnya berputar baik. Setelah meringkuk di penjara, beberapa waktu kemudian puncak karirnya dapat diraih. Ia menduduki jabatan Gubernur di Mesir. Pada kesempatan itu Yusuf mencari bagian hatinya yang hilang. Ia mendengar kabar, kalau Zulaikha sang pujaan hati, kini masih hidup di suatu tempat. Namun keadaannya sangat mengenaskan. Seperti yang telah tadi aku sampaikan.

Ketika Yusuf menjumpainya keadaan berubah. Keriput yang menempel pada wajah Zulaikha, langsung hilang tertiup angin. Tubuhnya tidak lagi membungkuk. Tulang-belulangnya sanggup kembali menopang tubuhnya. Matanya berbinar, seakan penyakitnya akan sembuh selamanya. Dia tidak kuat lagi untuk menahan peluk, sebagai hempasan hasrat yang tak pernah terucap. Yusuf pun demikian. Tak kuasa melihat betapa buruknya keadaan Zuliakha, tanpa dirinya. Air mata mereka berdua menetes. Tangis bahagia, yang tak dapat lagi mereka sebutkan. Yusuf menerima janda Zulaikha dengan segala keadaan dan penderitannya. Dia mengabaikan semua rupa, celah dan kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi.

Allah Swt memberi balasan kesabaran Yusuf, dengan menyatukan keduanya dalam ikatan pernikahan yang hahal. Hasilnya, kenikmatan cinta yang mereka dapatkan hingga tak dapat diwakilkan dengan seribu puisi. Setelah selesai Yusuf berhubungan intim dengan istrinya, ia berkata, “Demi Allah ini lebih indah dari yang kamu pinta dulu”. Zulaikha hanya tersenyum, sambil merangkul erat suaminya.

Kalau lah Zulaikha bisa bahasa Inggris, maka dia akan bilang, “I love You for ever, honey”.

—ooOoo—

Buat pembaca, makasih yach dah baca curhatku. Buat cintaku yang tak pernah padam, jadilah Zulaikha-ku. Karena aku Yusuf-mu sayang. Upzzz Ya Allah. aku belum shalat subuh! Jam berapa ini????


TAGS Curahan Hati


-

Author

Follow Me